Welcome

Selamat datang di blog kami, lewat blog ini saya ingin berbagi berbagai kisah, cerita, maupun saduran dari berberapa milis . Juga beberapa info menarik seputar si "Kulit Bundar" , yang jelas isinya di jamin memberi inspirasi buat kita semua. Akhirnya selamat membaca dan mengambil hikmah yang terkandung didalamnya.

Kamis, 31 Mei 2012

Pemimpin Jatuh Miskin



Mengapa bangsa ini sulit sekali menjadi akil-balig? Belajar untuk bertanggung jawab layaknya orang dewasa. Para elite politik terus memperagakan perilaku kekanak-kanakan. Gemar meminta banyak hal kepada negara sembari kerja malas-malasan. Petinggi negara masih juga tampak rileks, bahkan para koruptor pun dapat hadiah grasi. Segala hal di negeri ini seolah berjalan normal. Kalau anak balita wajar bersikap kekanak-kanakan karena mereka memang homo ludens, makhluk bermain. Tapi, manakala para petinggi nasional masih bermain-main dengan urusan negara dan bangsa, lantas di mana pertanggungjawabannya? Padahal saat ini hidup rakyat kian susah, perahu bangsa dalam pertaruhan, dan negeri ini tengah dilecehkan tetangga.

Sungguh, betapa sulit memahami nalar kekanak-kanakan elite politik yang menuntut adanya rumah aspirasi dengan anggaran keuangan negara. Kalau pakai anggaran sendiri  tentu elegan. Bukankah selama ini mereka dibayar negara, yang salah satu kewajibannya ialah menyerap aspirasi rakyat. Padahal mayoritas rakyat yang diwakili justru tengah berjuang mempertaruhkan hidup yang semakin berat dan dililit banyak kesulitan. Gagal dengan mainan rumah aspirasi, muncul gagasan dana daerah pemilihan. Apalagi yang masih kurang untuk dikuras habis dari perut negeri yang kian compang-camping ini?

Panorama paradoks lain juga terjadi. Di laut bangsa ini dilecehkan bangsa tetangga, tanpa rasa terhina. Padahal inilah negeri maritim dan kepulauan terbesar di kawasan Asia Tenggara dengan sejarah masa lampau yang gagah perkasa. Sedangkan di daratan ribuan anak bangsa terus mengadu nasib di negeri serumpun sambil terus dilecehkan, diindonkan, disiksa, dan sebagian tengah menunggu nasib untuk dihukum mati. Di tengah derita anak bangsa yang serbapilu seperti itu, para pemimpin bangsa masih juga tebal muka dan saling menyalahkan.

Apa yang hilang di negeri ini? Soal sensitivitas? Hidup saling peduli dan berbagi? Visi kebangsaan? Sikap tegas? Tanggung jawab? Moral kenegarawanan? Jangan-jangan kehilangan semuanya. Segalanya menyatu menjadi penyakit batin dan mental yang kronis. Padahal masalah bangsa kian berat dan krusial. Masa depan penuh pertaruhan. Tantangan dari luar tak kalah ganasnya. Bencana demi bencana terus menimpa seolah tak kenal henti. Ada apa dengan perangai para elite bangsa di negeri ini?


Teladan Al-Faruq

Dalam memimpin negara, belajarlah kepada Ummar Ibn Khattab. Sosok khalifah ternama yang gagah, pemberani, negarawan, sekaligus sangat cinta rakyat. Dia bahkan tidak mau disebut khalifah, lebih senang dipanggil Amir al-Mukminun, yakni orang yang diberi amanat untuk menunaikan urusan rakyat, bukan menjadi penguasa. 
Kepemimpinannya dikenal adil dan tegas, hatta untuk sanak keluarganya sendiri. Karena itu, Umar dijuluki al-Faruq, sosok pemimpin adil, sekaligus menjadi figur pembeda. Jika dirinya bersalah, tak segan minta maaf dan dihakimi pengadilan, tak mau ada perlakuan istimewa. Negara tidak pernah jadi urusan anak-bini.

Bagaimana Umar al-Faruq mencintai dan membela rakyatnya? Bukan berbasa-basi, beretorika, dan sekadar berteori. Setiap hari bahkan malam Umar turun langsung ke rakyat bawah. Dia temukan keluarga yang kelaparan, kemudian dia ambilkan gandum untuk diberikan. Dia ajak istri tercintanya, Ummu Kalsum, untuk berpahala membantu ibu yang sedang melahirkan. Dia jumpai ibu yang tak menyusui bayinya yang tengah menangis, lalu dianjurkannya untuk menyusuinya bahkan dibuatkannya edaran ke seluruh pelosok negeri agar ibu-ibu menyusui bayinya hingga usia dua tahun.

Umar begitu kasih sayang, empati, peduli, dan membela rakyat kecil dengan tangannya sendiri. Karena itu, selain sosok Al-Faruq, Umar dikenal pula sebagai "ayah kaum dhuafa", karena demikian cintanya terhadap rakyat yang lemah. Sekaligus tegas kepada siapa pun yang melanggar aturan dan hukum tanpa pandang bulu. Dalam pidatonya ketika diangkat khalifah, Umar sebagaimana ditulis Heikal (2001: 656) berujar lantang: "Di mata saya, tidak ada orang yang lebih kuat daripada orang yang lemah di antara kalian, sebelum saya berikan haknya, dan tak ada yang lebih lemah daripada orang yang kuat sebelum saya cabut haknya."

Jika para elite dan pemimpin negeri belajar pada Umar Al-Faruq, lebih-lebih kepada uswah hasanah Nabi Muhammad, tidak akan ada yang mengabaikan amanat dan menelantarkan rakyat. Apalagi aji mumpung dan haus kuasa, karena kekuasaan dan mandat itu bukan hanya urusannya dengan  rakyat, melainkan juga menyangkut urusan pertanggungjawaban dengan Tuhan. Karena itu, tidak akan berani bermain-main dengan kekuasaan yang ada di tangannya, sekecil apa pun kekuasaan itu, apalagi kekuasaan yang besar.

Umar tidak harus membuat rumah aspirasi hanya untuk menyelami dan memperjuangkan kepentingan rakyat di bawah, apalagi akal-akalan untuk sekadar cari mudah dan cari proyek baru. Dia langsung turun ke tengah-tengah kehidupan nyata rakyat, tanpa banyak retorika dan fasilitas. Tak ada kendala dan kesulitan serius untuk menyerap aspirasi dan nasib rakyat. Segala hal tentang derita, kesulitan, dan jeritan rakyat kecil sudah terlampau telanjang hadir di hadapan kita sehari-hari. Setiap hari dihabiskan untuk berkhidmat, nyaris tanpa istirahat, apalagi menikmati kesenangan. Hidupnya total diabdikan untuk kejayaan bangsa dan negara guna meraih ridha dan karunia Allah, hingga akhir hayatnya mati syahid.


Soal karakter   

Bagaimana dengan para elite dan petinggi negeri ini? Kecukupan lahir dan reputasi diri sungguh luar biasa. Fasilitas negara pun tak kurang, bahkan cukup berlebihan. Mungkin yang kurang ialah soal karakter kepemimpinan. Masalah mental dan martabat diri. Muaranya ialah kemiskinan rohani. Rohani yang menggelorakan jiwa amanah, tanggung jawab, kerja keras, komitmen, dan pengkhidmatan total untuk bangsa dan negara melampaui hak-hak yang diperolehnya.


Mentalitas elite negeri seolah menjadi pemulung berdasi. Kerja tanpa risiko sambil mengais-ngais barang rongsokan. Gaji, fasilitas, dan hak-hak istimewa tidak pernah dirasakan cukup karena yang dikejar adalah keberlebihan. Sebesar apa pun hak-hak yang diberikan negara tidak akan pernah merasa cukup karena yang diinginkan ialah ketidakterbatasan. Hidupnya merasa kurang dan kurang terus di tengah keberlebihan yang tak dimiliki rakyat banyak. Andaikan para pahlawan yang sudah di alam kubur menyaksikan perangai para penerusnya yang seperti itu, mungkin mereka akan menangis di Hari Ulang Tahun Kemerdekaan 17 Agustus yang bersejarah.

Mental pemulung berdasi berkaitan dengan kualitas martabat diri. Nabi Muhammad SAW menyatakan dalam salah satu hadisnya, yadu al-'ala khairu min yadu al-sulfa, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Nabi dan para sahabat yang dijamin Allah masuk surga, bahkan bermujahadah untuk mempraktikkan cara hidup yang bermartabat utama itu. Bukan sekadar bicara. Seluruh hidupnya diabdikan untuk mengemban risalah dan memuliakan umat manusia. Muhammad adalah nabi kaum mustadh'afin. Keperkasaannya mengguncang takhta Kisra, tetapi hidupnya bersahaja dan pembela kaum jelata. Para khalifah penerusnya  pun mengikuti jejaknya. Banyak memberi, tidak pernah meminta. Apalagi meminta kepada negara ketika rakyat hidup miskin, susah, dan diimpit derita.

Sabda Nabi, "Bukanlah kekayaan itu lantaran banyaknya harta, kekayaan itu ialah kekayaan jiwa." Ahli hikmah menyatakan, "orang kaya ialah orang yang sedikit keperluannya." Buya Hamka menulis, jangka turun naik kekayaan dan kemiskinan terletak pada keperluannya. Mereka yang kaya sedikit keperluannya, sedangkan yang miskin banyak keperluannya. Para raja dan mereka yang berkuasa sesungguhnya miskin, karena demikian banyak keperluannya. Demikian cara berpikir sufistik mengonstruksi siapa yang kaya dan siapa si miskin, yang tentu berbeda dari cara berpikir kaum materialisme. Apalagi cara berpikir mereka yang israf, yang tak pernah kenyang dalam segala keperluan hidup.

Pemulung berdasi lama-kelamaan berubah statusnya menjadi al-sailin, yakni peminta-minta kelas atas yang terkena hukum berhak untuk dizakati  Jika kaum jelata meminta-minta di pinggir jalan dan dari pintu ke pintu, dapat dipahami karena keterbatasannya. Tapi, manakala yang terus meminta-minta kepada negara itu mereka yang berpunya, bahkan segala keperluannya ditanggung negara, sungguh ironis. Sementara sensitivitas terhadap derita rakyat dan problem bangsa tak juga beranjak naik, seolah negeri ini aman sentosa dalam senandung lagu nan indah melankolis.

Kurang apa lagi? Orang berseloroh menjawab, kurang harga diri. Agama menyebutnya sebagai penyakit israf dan nifaq. Keberlebihan yang tidak pernah merasa puas dan perilaku yang tak sejalan kata. Inilah bentuk kemiskinan rohani para pemimpin dan elite negeri. Semuanya berlomba untuk meraih kuasa, hingga berinflasi jadi politisi sejati: demi takhta apa pun dilakukan. Sedangkan martabat kenegarawanan kian hari semakin tenggelam ditelan bumi. Raga fisiknya kaya materi dan kuasa, jiwa dan perilakunya papa jelata. Gesture kuasa tampak gagah di muka, tapi lemah nyali dan menjadi elite rongsokan. Para pemimpin dan elite negeri seperti ini tak pernah akil-balig untuk menjelma jadi pemimpin dan elite negarawan yang bertanggung jawab total terhadap nasib bangsa dan negara. Libido kuasanya ialah takhta dan harta; sementara perilaku kepemimpinannya kerdil. Akhirnya, jatuh miskin  (rohani) di tengah gelimang dunia indrawi dan keperkasaan takhta!



Oleh Haedar Nashi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar